Silent Love

Februari 08, 2019


Kali ini Tyan membiarkan Nay mendorongnya menjauh. Wanita itu lalu menatapnya dengan mata yang mulai membasah. "Kau tidak mengerti, bukan?"

Frustasi dengan kekeraskepalaan Nay, Tyan mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Diusapnya wajah lelahnya sebelum kembali memandang Kanaya istrinya. "Tidak, Nay, aku tidak mengerti. Kemudian Tyan menghela napas lelah lainnya. "Mungkin karena kita adalah pasangan suami istri yang berbeda, kita tidak menikah karena cinta pada awalnya. Tidak ada cinta, Nay.

Tyan melihatnya, sebutir air mata jatuh di pipi Nay. Tyan mengepalkan tangannya, menahan jari-jarinya sendiri agar tidak menghapus butiran tersebut. Tyan kemudian berdiri dan bersiap keluar dari kamar. Semakin lama ia disana, ia merasa akan semakin menyakiti Nay. "Apakah salah bila aku ingin mengenalmu, Tyan." 

Tyan menatap Nay dengan muram. "Tidak,kau tidak salah. Tapi aki yang salah. Aku tidak siap berbagi, Nay. Aku tidak bisa menceritakan apapu tentang Lulu, aku tidak sanggup melakukannya." 

"Kenapa?" tanya Nay serak.

"Bagaimana perasaanmu saat tahu bahwa orang yang kamu cintai lebih memilih sahabatmu sendiri? Bagaimana kau membayangkan sakitnya aku saat Lulu pergi meninggalkanku. Bagiku semua itu lebih menyakitkan dari apapun, Nay. Tidak peduli seberapa besar aku berharap untuk bersamanya, ia tak akan pernah kembali, Nay." 

"Aku mencintaimu" 

Ucapan itu menghantam Tyan dengan kekuatan yang mengerikan, membuat ia tersentak. Tyan tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Ia sadar saat ini pasti wajahnya memucat pelan. Tyan paling tidak ingin mendengar kalimat itu terucap dari mulut Nay. Ia tidak membutuhkan cinta Kanaya. Cinta Nay hanya akan membebaninya. Tapi, kenapa rasanya jantungnya berdetak dengan kecepatan yang aneh? Kenapa ada perasaan hangat menjalari tubuhnya? Ia harus menolak perempuan itu sekarang juga. 

Amarah menguasai Tyan. Terlebih saat ia menyadari bahwa ucapan Kanaya mempengaruhinya, lebih dari yang seharusnya ia rasakan. "Apakah sekarang waktunya bagimu untuk memintaku membalas perasaanmu? tanyanya angkuh. "Maaf, Nay. Aku tidak mencintaimu. Tidak ada yang bisa menggantikan Lulu di hatiku. Tidak seorangpun. Terima pernikahan seperti ini, jangan meminta lebih." 

Tyan tidak menunggu Kanaya bereaksi atas ucapannya barusan. Ia berbalik cepat dan berjalan keluar kamar. Menutup pintu di baliknya, Tyan menyeret langkahnya yang tiba-tiba terasa berat. 

Membayangkan Lulu adalah satu-satunya cara untuk mengontrol dirinya agar tidak leluar dari jalur. Kemudian semua tentang Lulu pelan terbentuk, raut sempurnanya, rasa ciumannya, tapi bayangan itu sedikit terganggu oleh rasa ciuman yang lain. 

Tyan tersentak. Matanya terbuka. Lalu dengan marah ia kembali mencoba menghadirkan sosok Lulu di ingatannya. Tyan terus mengorek lebih dalam kenangannya bersama Lulu. Dimulai dengan tatapannya, sentuhannya, harum tubuhnya, suaranya yang lembut, tatapan mata Lulu yang menawan, dan semua rasa terbaik yang pernah ia rasakan saat bersama Lulu. Frustasi, Tyan menyadari dirinya gagal. Ia mengumpat, marah. 

Bagaimana kerasnya ia berusaha membayangkan kehalusan kulit Lulu, ia pernah menyentuhnya ribuan kali. Tapi yang terus menerus terbayang di benaknua adalah kelembutan berbeda dari Kanaya. Tyan tidak menyangka benaknya sudah melupakan Lulu. Ia tidak menyangka Kanaya kini mengisi benaknya, membuat ia merasa sempurna dan lengkap. Dan wanita itu baru saja terang-terangan menyatakan perasaannya. Sialan! 

-The end- 

You Might Also Like

8 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images