Apakah Pasangan Kamu Pelaku Emotional Abuse?

Oktober 10, 2018


Selamat siang, Mak! Apa kabar hari ini? Belakangan aku ga bisa duduk di depan laptop, jadinya jarang update blog, deh. Padahal coretan udah banyak di notes, belum lagi tulisan-tulisan di notepad hape. L Maklumin aja ya, Mak! Aku ini emak dasteran yang sok sibuk. *Hahaha

Mak, Mak! Pernah denger kata ‘emotional abuse’? Kali ini, aku mau share tentang masalah ini, ya, Mak. Emotional abuse sebenarnya bisa terjadi dalam hubungan apapun, tapi kali ini kita bahas emotional abuse dalam hubungan pernikahan.

Dalam hubungan pernikahan, pada umumnya sepasang suami-istri itu sudah berkomitmen untuk menjalani kehidupan bersama ‘kan yah? Tapi berjalannya waktu komitmen itu ga selalu bisa kita jaga. Bener ga, Mak?

Setiap pasangan dalam hubungan pernikahan diharapkan dapat menjadi teman berbagi dalam suka dan duka, namun dalam kenyataannya pernikahan tidak selalu berjalan mulus, semulus paha cherrybelle. Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan ketidak mulusan itu, salah satu penyebabnya adalah karena adanya emotional abuse atau kekerasan emosional.
Hubungan manipulatif ini pada akhirnya hanya akan menyakiti salah satu ataupun kedua belah pihak dalam hubungan pernikahan itu menjadi tidak bahagia. Bahaya, Mak!


Emotional abuse adalah dasar dari semua kekerasan. Emotional abuse ini adalah bentuk tindak kekerasan psikis yang tidak kasat mata. Namun memiliki andil besar dalam menurunkan kepercayaan korbannya. Jika satu diantara kalian menjadi korban emotional abuse oleh pasangan kalian, segeralah mencari bantuan profesional.

Secara naluriah, setiap kita ingin mendapatkan penerimaan dari orang lain. Keinginan akan penerimaan ini biasanya akan jauh lebih besar pada lingkungan terdekat kita. Semakin dekat hubungan kita dengan seseorang, maka akan semakin besar pula harapan kita akan penerimaan dari orang tersebut.

Berbicara dari sudut pandang perempuan, sudah cukup banyak contoh di masyarakat yang kemudian viral, akibat menjadi korban emotional abuse oleh pasangannya dalam pernikahannya.

Sebut saja namanya Mawar, Ibu 3 orang anak ini sering kalli mendapatkan perlakuan yang tidak enak dari pasangannya hidupnya. Perlahan mimpinya mendapatkan sosok suami yang pengertian, yang dapat membahagiakan ia dan anak-anaknya sirna seiring semakin memburuknya perilaku sang suami.

Apa saja contoh emotional abuse dalam pernikahan? Ada banyak, diantaranya adalah menghardik, memerintah dengan kata-kata kasar dan tidak mengenakkan. Membuat Mawar merasa bersalah dan selalu salah. Ketika berhadapan dengan suami, Mawar merasa ketakutan dan bingung. Semakin hari hardikan dan perintah itu membuat Mawar tidak lagi nyaman dirumah, ketakutan jika melakukan kesalahan, walaupun sebenarnya ia sudah melakukan semua tugasnya dengan baik.
Konflik internal yang dirasakan Mawar tidak berhenti sampai disitu, ketika malam suaminya akan meminta untuk dilayani kebutuhan bathiniahnya, jika Mawar menunjukkan keengganan, suaminya akan marah dan mengeluarkan kata-kata pedas, sebaliknya jika Mawar melayani kebutuhan seksual suaminya, Mawar akan dipuja-puja. Kondisi ini hanya berlangsung beberapa hari dan kemudian pola yang sama akan terulang lagi.

Hati-hati jika pasangan kamu, mengatakan hal-hal yang membuatmu marah dan ketakutan.
Menjadi terlalu cemburu dan memberikan kamu perhatian yang tidak pantas jika kamu melakukan percakapan dengan orang lain. Pasangan selalu memonitor waktu dan dimana keberadaan kamu. Ga berhenti sampai di situ, pasangan juga memonitor gadget kamu, siapa yang menelpon, dan memeriksa history chat di smartphone kamu. Itu semua adalah bentuk kekesarasan psikis, dan kamu adalah korban dari emotional abuse.


Bukan itu saja, ketika pasangan kamu membuat keputusan yang berefek pada kehidupan kalian berdua, tapi ia tidak mengajak kamu bermusyawarah terlebih dahulu, itu juga salah satu cabang emotional abuse yang sering banget dilakukan para pria. Kamu dibatasi dalam hal keuangan, seperti diberi jatah dan semua dipertanyakan, kemana saja kamu menghabiskan uang. Hati-hati, Mak! Itu juga cabang dari emotional abuse. L

Sikapnya berulang kali melampaui batas, dan mengabaikan kamu. Ini adalah bentuk kekerasan psikis juga, Mak! Apakah pasangan kamu suka melakukan ancaman meskipun secara halus, atau berkomentar negatif dengan maksud untuk menjebak kamu atau mengendalikan kamu? Menunjukkan sikap pengabaian dan ketidak hormatan kepada kamu sebagai pasangannya? Suka membuat kamu menjadi bahan leluconnya? Ia sering menggunakan kata-kata kasar dan menggoda kamu untuk membuat kamu merasa down dan merasa buruk? Ini adalah tigkatan emotional ebuse level parah yang harus kamu lawan dan jangan biarkan kamu menjadi korbannya.


Emotional abuse sering terjadi, tidak terkecuali dalam hubungan pernikahan. Hubungan suami-istri yang seharusnya dipenuhi oleh kasih sayang , saling pengertian ternyata juga bisa menjadi media berkembangnya emotional abuse.

Emotional abuse dalam hubungan suami istri tak ada bedanya dengan hubungan-hubungan lain, pembeda utamanya di sini adalah dalam hubungan suami istri hal ini menjadi tampak kontra produktif, mengingat bahwa hubungan suami istri biasanya adalah hubungan yang bersifat timbal-balik sehingga menjadi salah dan patut dipertanyakan, bagaimana sebuah hubungan yang sifatnya timbal-balik dan melibatkan kerelaan kedua belah pihak menjadi hubungan yang menyakitkan salah satu pihak dalam hubungan tersebut?

Pada umumnya, pelaku emotional abuse adalah mereka-mereka yang memiliki masa kecil yang tidak bahagia, atau tidak menyenangkan. Kebutuhan akan rasa aman tidak ia dapatkan dari keluarganya, sehingga ketika ia dewasa ia berusaha untuk menutupi rasa tidak amannya itu dengan mendapatkan kekuasaan atas pasangannya.

Pelaku emotional abuse berusaha keras untuk tidak mengakui manipulasi dan kontrol yang ia lakukan terhadap pasangannya, karena bila ia mengakuinya, maka ia sama saja dengan menelanjangi dirinya sendiri. Pelaku emotional abuse cenderung menolak kehangatan dan keterbukaan yang ditawarkan oleh pasangannya, karena ia sendiri tidak berani mengakui keberadaan perasaan-perasaan di dalam dirinya, ia merasa perasaan-perasaan itu akan melemahkannya.

Ketika melakukan tindakan abuse, pelaku tidak akan memikirkan perasaan sakit yang mungkin akan dialami oleh pasangannya karena di dalam benaknya ia berusaha menang walaupun korban atau pasangannya tidak akan menyadari bahwa sebenarnya telah terjadi sebuah kompetisi tidak kasat mata diantara mereka berdua dalam hubungan pernikahan mereka.

Pola perilaku emotional abuse, berbeda dengan perilaku KDRT (physical abuse). Pada kasus KDRT, pelaku biasanya akan meminta maaf atas perilakunya, berjanji tidak akan melakukan lagi, walau pada kenyataannya akan melakukannya kembali. Sedangkan pada pelaku emotional abuse, dari awal pelaku memang tidak pernah mengakui manipulasi emosional yang dilakukannya.

Pada kasus KDRT, korban merasa bahwa apa yang dialaminya memang riil, karena adanya pengakuan dari pelaku dan ada bukti fisik pada tubuh korban KDRT. Sedangkan pada emotional abuse biasanya korban merasa bungung, cemas, dan bimbang akan perasaan yang dirasakannya karena tidak adanya pengakuan secara langsung dari pelaku dan memang akibat dari emotional abuse tidak terlihat langsung.

Sebenarnya bahasan ini sangat panjang, tapi aku akan membaginya dalam beberapa post. Mengingat ga bisa lama-lama depan laptop untuk beberapa waktu ke depan karena urusan kesehatan. Pembahasan ini juga erat kaitannya dengan kesehatan mental, dan akan kita bahas di post berikutnya, ya, Mak.

Jika kamu merasa menjadi korban kekerasan psikis, segera mencari bantuan profesional ya, Mak. Seperti kesehatan pisik, kesehatan mental ga kalah penting untuk dijaga, Mak.













You Might Also Like

6 komentar

  1. Berbeda dengan KDRT (physical abuse), emotional abuse ini sulit dibuktikan. Biasanya dilakukan saat berdua saja. Padahal bukti adanya kekerasan ini diperlukan seandainya pihak korban ingin mengakhiri pernikahan dan mengajukan gugatan ke pengadilan agama. Jadi, apa sebaiknya yang harus dilakukan korban, Mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada mba, mungkin ada kata-kata melalui chat di wa/media sosial. Di print saja, itu bisa jadi bukti di pengadilan. Kekerasan psikis emang tidak bisa dilihat bekasnya. Tapi kalau sudah mencari bantuan profesional biasanya dokter punya analisa tertulis mba, apakah korban mengalami stres, depresi atau mental illness lainnya yang berkolerasi dengan emotional abuse. Setahu saya ada beberapa penderita bipolar yang tadinya adalah korban emotional abuse dan korban perselingkuhan suaminya mba. Itu info kongkrit dari komunitas tempat saya bergabung :)

      Hapus
  2. Terima kasih informasi dan sharingnya mbak, saya juga pernah menemukan hal-hal seperti itu dilingkungan sekitar, dan akhirnya berujung kepasrahan disalah satu pasangannya. Menurut saya seharusnya info-info dan penanggulangannya bisa lebih diperkenalkan lagi kepada masyarakat,supaya mereka bisa melakukan sesuatu saat hal itu terjadi pada diri mereka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perempuan yang menjadi korban kekerasan psikis ini jika tidak mencari bantuan/healing dan jika masih menjadi korban selanjutnya akan jatuh oada mental illness yang lebih parah dari sekedar depresi dan stress mba. Sayang, memang di negara kita masih minim pengembangan informasi ttg kesehatan mental.Udah jadi momok di masyarakat org dengan mental illness adalah sakit jiwa dalam tanda kutip 'gila'. Padahal engga lho, mental illness itu juga sering dikaitkan dengan kurang iman,padahal engga ada hubungannya sama sekali. Stigma masyarakat udah kadung jelek jika seseorang antri di ruang klinik jiwa, atau ke psikolog. Juga mungkin karena rate harga ke psikolog masih terbilang mahal, makanya banyak peremouan korban abuse dalam pernikahan memilih pasrah dengan dalih demi anak2, padahal mah kalo ditanya ke anaknya milih emaknya nangis dan depresi atau bahagia, pasti anak2 milih emaknya bahagia kan, Mba? Hehe

      Hapus
  3. emosial abuse ini ternyata lebih parah dari main fisik ya. Aku punya sodara ipar yang adiknya sering banget di omongin kasar sampe kebun binatang keluar semua. Ya Allah kasian banget. Tapi gak main fisik hanya perkataannya itu yang nyakitin hati. Sedih banget dengernya, sampe stress dan cuti dari kantor karena depresi hampir bunuh diri minum baygon. Dengernya miris banget,kasian. Semoga kita dilindungi ya Makdi, gak dapat pasangan hidup seperti itu. Aamiin.

    BalasHapus
  4. baca tulisan makdi jadi pengen peluk suami, Alhamdulilah diberi rezeki suami baik.teh adik ipar suaminya perhitungan, dikasih jatah harian bla bla dan ngga cukup lah ..suka nanya uangnya kemana saja,apa itu termasuk emosional abuse

    BalasHapus

Popular Posts