LOVE or MONEY (Relationship Goals)

September 30, 2017


Malam, Mak. Ketika para bocah udah terlelap yang Emak rasain itu apa? Kesepiankah? Atau punya ide untuk bisa me time? Kalo aku, bisa duduk semedi depan laptop itu udah termasuk me time, Mak! Karena menurut aku, cuma ini hiburan murah meriah satu-satunya yang bisa dilakukan kapan saja untuk menjaga otak tetap waras. Yess, sesederhana itu.  Jadi emak-emak itu butuh setrong menghadapi kenyataan, Mak! Ya kenyataan hidup, ya godaan untuk ngomel-ngomel, atau ke-setrong-an Emak menghadapi drama baru dari para bocah yang setiap hari bertumbuh.

Ngomongin tentang godaan, Emak bukan hanya harus tahan godaan untuk ‘tidak cerewet’ lho. Sebagai Emak, kita juga harus tahan dari godaan yang berbau materi.  Bukan apa-apa, Mak. Ketika si Emak ini, yang tiap hari udah pusing banget mikirinm harga bawang dan cabe di pasar, Emak juga di hadapkan dengan kenyataan harus pinter mengelola keuangan rumah tangga. Ga heran di masyarakat, Emak-emak terkenal dengan julukan ‘mata duitan’. Apalagi kalo pas si Bapak ikut nimbrung dengan bahasa becandaan yang rada bikin baper. “Bini gue, kalo udah liat duit aja, matanya langsung ijo.” *emang bener sih, hahaha….*

Padahal nih ya, Bapak-bapak belum tentu bisa sekuat emak-emak yang kalo udah dihadapkan dengan yang namanya ‘uang’ tiba-tiba suka menjelma jadi analis keuangan level expert. Jadi, Emak yang matanya gak ijo liat uang, jaman sekarang ini malah bisa di bilang ‘yakin lo gak suka duit?’
Dan kalo udah ada sangkut paut dengan yang namanya materi, bawaannya sensitive. Senggol, bacok!

Setuju gak, Mak? Kalo malam ini kita bahas tentang Love or Money? Kamu pilih mana, Mak? Pilih cinta atau uang? Kamu penganut ‘Ga apa-apa makan sepiring berdua asal selalu bersama.’ Atau kamu penganut ‘Ada uang abang sayang, ga ada uang abang tidur di sofa?’

Kalo dipikir lagi nih ya, cinta dan uang itu gak akan bisa sejalan. Coba deh, ketika memilih cinta, tapi materi gak ngikutin ya gak bisa juga, masa iya beli beras pake daun hasil metik di halaman? Lain lagi kalo dikasih banyak duit, bisa jadi nyonyah yang tongkrongannya butik mahal, eh tapi si ayang mbeb gak ngopeni kita karena terlalu sibuk nyari duit. Bete kan, Mak? Seperti dihadapkan dengan buah simalakama.

Love and money itu harus sejalan, setuju? Kita gak bisa bergelimang cinta dan materi sekaligus. Seandainya bisa memilih, udah dipastikan banyak perempuan pengen mendapatkan pria yang sempurna. Sosok tampan, romantis, humoris, bertanggung jawab dan tentu saja horang kaya. But, no body is perfect!

Pada kenyataannya, cukup sulit menemukan, apalagi memiliki pria sempurna seperti itu. Yang ada kita akan dihadapkan pada pilihan, memilih pria kaya tapi tidak kita cintai, atau pria sederhana yang kita cintai. Nah, mak, ketika kamu terpaksa memilih antara cinta atau uang, apakah kamu akan tetap memilih cinta di atas segalanya?

Cinta dan Realitas Kehidupan 
Mak, percaya atau tidak, kata-kata seperti ini “hari gini milih cinta? duh, yang bener aja?” udah sering banget kan, kita dengar dalam keseharian kita? Apakah itu semua mengherankan buat Emak? kayaknya engga, kan? Kita sudah cukup sering mendengar bahasa-bahasa semacam itu.

Zaman sekarang, semua seolah diukur dengan materi, jangan heran lagi kalo sekarang banyak orang bahkan  mendahulukan uang. Alasan mereka cukup sederhana kok, Mak! “Cinta itu bisa dipupuk kapan aja, asalkan uang udah ada di genggaman.  Tapi kalo ngandelin cinta aja tanpa uang, wah mana tahan? Emang kalo laper bisa kenyang makan cinta doang?” *Ups….*

Jika melihat fenomena ini, apakah nilai yang dipegang oleh wanita dalam mencari pasangan hidup sudah mulai berubah seiring perkembangan zaman? Bukankah idealnya sebuah hubungan itu dilandasi oleh cinta dan bukannya materi?

Penyebab utama pergeseran pandangan itu adalah keadaan ekonomi kini yang dirasa makin sulit. Semua harga barang setiap tahun berlomba naik dan makin meninggi. Selain itu, banyak perempuan zaman sekarang dalam mencari pasangan hidup, memang cenderung mencari pendamping hidup yang  bisa membuat dia tidak perlu susah payah dalam hal materi. Salin juga mencari pasangan yang memiliki kelas sosial setara dengan dirinya atau kalau bisa lebih tinggi dari kelas sosialnya. Tak hanya dalam hal materi, tapi juga dalam hal intelektualitas.

Julukan ‘cewek matre’ gak lagi milik perempuan perkotaan, tapi sudah meluas hingga ke kampung-kampung di pedesaan.  Meski begitu, perlu diingat lagi, uang bukan segalanya. Jaman dahulu kala, ketika kita memilih bapaknya anak-anak menjadi pendamping hidup kita, kita juga menilai kepribadiannya kan, Mak? Dalam hal ini lebih kepada tingkah laku yang baik dan tanggung jawabnya

Taroklah duitnya banyak, punya perusahaan, mobil mewah segudang, dia mampu memberikan semua yang kita inginkan dalam hal materi, tapi apakah dia bisa mempertanggung jawabkan semua hartanya itu? Jangan sampai begitu hidup denganmu dia jatuh miskin karena dia tidak bisa bertanggung jawab pada hartanya, kebiasaan manja dan hidup enak. Duit lama-lama bisa abis kan, Mak! Nah, sebagai orang yang udah terlanjur dimanjakan kemewahan, apakah kamu juga masih bisa menerima dia saat jatuh miskin? Tetap disisinya saat dia kehabisan harta kekayaan? Kalo gak ada cinta ya bubar jalan.

Sama-sama Beresiko
Mungkin, banyak diantara kita dulu yang menganggap cinta saja sudah cukup untuk mengarungi bahtera rumah tangga tapi materi juga ga bisa diabaikan begitu saja. Kalo sudah begitu, manakah yang lebih prioritas?

Kalau semata-mata melihat keadaan ekonominya, itu juga ga bijaksana, pun sebaliknya. Ketika  memilih cinta saja, atau materi saja, keduanya sama-sama beresiko. Nih ya, kalau memilih materi resiko terbesarnya adalah kamu susah mencapai kebahagiaan. Kesenangan sesaat karena materi mungkin bisa kamu raih, tapi tidak akan lama. Karena suatu saat kamu mungkin akan merasa bosan.Disitulah kekuatan cinta diperlukan.

Misal, pasanganmu adalah pria kaya, status sosial kamu akan ikut melonjak naik. Hidup dimanjakan kemewahan, punya banyak uang, kamu bisa mendapatkan apa saja yang kamu mau, pesta jetset, shopping setiap hari. Tapi, jika demi menumpuk hartanya, pasangan kamu akan sering bepergian untuk mengurus bisnisnya, waktu kebersamaan kamu dan pasanganmu pun otomatis berkurang. Nah, disini kekuatan cinta kembali dipertanyakan. Kalo ga ada perekat bernama cinta, ya bisa-bisa hubungan kita dengan pasangan tamat sebelum waktunya. Apa lantas berpisah dan membuat anak menjadi korbannya?

Godaan dalam hal materi juga sering menyebabkan terjadinya perselingkuhan. Baik dari pihak kamu atau dari pihak pasanganmu. Wanita yang sudah merasa kaya karena menjalin hubungan dengan pria kaya, akan mudah menarik perhatian pria lain, terutama pria-pria yang mengincar harta. Begitu pula sebaliknya. Pria kaya yang kini menjadi kekasih kamu, juga menjadi sasaran empuk para wanita penggoda yang mengincar materi. Dan itu berarti kompetisi yang kamu hadapi juga akan makin berat. Ya, kan?

Lain lagi resiko yang dihadapi jika kamu hanya mengandalkan cinta. Resiko terberatnya, kamu harus siap memulai segalanya dari bawah.  Pernah seperti ini, Mak? Artinya, kamu bersedia menerima pasangan apa adanya dan hidup sederhana ketika menikah. Kamu juga harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan tinggal di pondok mertua indah. Kemudian, pelan-pelan mencicil rumah milik kalian sendiri. Masalah sering  timbul ketika salah satu diantara kalian sudah terbiasa hidup berkecukupan dan kemudian sekarang berumah tangga  dengan pria/wanita dari ekonomi pas-pasan, pergesekan bisa terjadi jika salah satu diantara kalian kemudian mulai merasa ‘tersiksa’. Apalagi ditambah jika salah satu diantara kalian pada dasarnya tidak bisa hidup bahagia tanpa uang. *nah, lho!*

Jika pendapatan kamu lebih tinggi dari pasanganmu, itu membuat dia akan rendah diri. Kamu sedikit banyak akan merasa powerful. Ini juga bisa berdampak buruk pada hubungan kalian.  Secara tidak langsung bisa saja kamu menjadi memaksa pasanganmu untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan standar yang selama ini kamu dapatkan sebelum berumah tangga dengannya. Lama kelamaan hubungan kamu akan renggang kemudian the end!

Biarkan cinta berbicara
Jadi, salahkan kita jika mengutamakan materi? Sebenarnya tidak ada yang salah dan benar. Tapi, Mak, kita juga harus bisa mengakui bahwa urusan materi harus dipertimbangkan untuk menuju tahap fase keluarga kecil kalian selanjutnya. Bedakan mana materialistis dan realitis. Jika  dulu kamu hanya memandang dompetnya, tanpa melihat kwalitas lain yang dia miliki, sudah bisa dipastikan kamu materalistis. Tapi kalo dulu  kamu memikirkan bagaimana kelak biaya hidup kamu dan anak-anak kamu, nah yang ini namanya rasional. Sah-sah aja kok! Kamu memikirkan uang demi mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik.

Cinta itu butuh sokongan materi, Mak! masa iya mau beli susu anak pake cinta? Beli beras pake cinta? Ya pake duit lah! Jika kamu belum merasa mampu untuk itu, tidak ada salahnya kamu mempertimbangkan untuk menunda menikah. Toh, menunda bukan berarti mengakhiri percintaan kalian, ya kan, Mak?

Seandainya priamu gak kaya-kaya banget, gak berdompet tebel, gak punya sederet mobil mewah, Gapapa, Mak! asalkan kalian tetap punya cinta. Jalani saja dulu.

Tapi perlu dipertegaskan lagi, jika kita sudah memilih, kamu harus mempertimbangkan plus-minus nya. Jangan lupa tanyakan pada hatimu, apa sih yang kamu cari, Mak? cinta atau uang?

Apapun itu, sekarang kita sudah menjalaninya, ya kan, Mak?



-d14N-










You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts