Blogging Rasa Curhat

November 20, 2018

Kenapa menulis di Blog? Karena pengen curhat!


Aku mengenal ‘menulis’ ketika jaman SMP, saat aku masih abegeh yang butuh menyalurkan isi hati. Jadilah aku menuliskan pantun-pantun cinta monyet, dan lirik lagu melow di diari yang aku beli dari hasil menyisihkan uang jajan sekolah, atau hasil nodong sama keluarga. Kala itu, setiap kali sehabis dimarahi almarhum Mama, akumenuliskan perasaanku di diari. Begitulah, akhirnya aku rutin menuliskan ragam perasaanku hingga aku beranjak remaja dan SMA.

Dulu, ketika uang jajan yang aku sisihkan tidak mencukupi untuk membeli diari merk Harv*st, dengan gambar-gambar romantis, aku membeli buku tulis merk KIK* atau BigB*ss sebagai ganti diari. 😁 Atau diari dengan gembok yang harganya pada saat itu membuat aku bisa-bisa ga jajan sebulan, yang kuncinya akan ku bawa kemanapun karena takut dan malu kalo dibaca orang lain. *Hahaha… ketahuan ‘kan kalo saya udah tua 😁

Itulah awal saya mulai suka menulis.

Berjalan waktu, ketika aku meninggalkan kota kelahiran untuk merantau, diari-diari itu akhirnya  jadi tumpukan kenangan. Yah, kenangan. Aku pernah menuliskan banyak rasa rindu pada almarhum Papa disitu, menuliskan ragam rasa persahabatan masa-masa SMP hingga SMA-ku disitu. Rasa dimarahin guru Matematika karena bukannya mengerjakan tugas malah mengobrol, corat coret atau menulis diari. Menuliskan betapa bangganya aku terpilih menjadi anggota cheerleaders sekolah masa itu. Yah, di lembaran-lembaran itu aku pernah menitipkan berjuta rasa yang tidak akan terulang lagi. Diari-diari itu dan buku-buku tulis itu teman curhatku. Tempat aku menitipkan banyak rahasia dan perasaan.

Ketika aku berstatus single dan masih berkarir, sudah berpenghasilan sendiri, udah bisa membeli agenda dengan sampul kulit yang isinya bisa di isi ulang. Tapi isinya cuma jadwal kerjaan dan beberapa catatan penting menyangkut pekerjaan. Pekerjaan pertama saya di perantauan adalah Marketing sebuah hotel yang memang membutuhkan catatan sebagai pengingat kemana saya harus sales call sepanjang minggu itu. Plek! Isinya ga jauh-jauh dari kerjaan, daftar telepon calon customer dan printilan kerjaan lainnya. Saya lupa tentang rasa yang biasanya saya tuliskan di buku-buku diari ketika remaja. Saya lupa diksi-diksi patah hati atau rindu atau diksi penuh cintaku waktu itu. Pekerjaan mensabotase isi kepalaku. Bahkan sampai karir terakhirku di sebuah airlines company, banyak rasa itu tak lagi ku simpan dalam bentuk tulisan.

2006, aku melangkah serius memasuki sebuah dunia baru yang hanya ada aku dan pasanganku di dalamnya. Kedua keluarga besar sudah berada diluar lingkaran, mereka melihat dan memantau hanya dari kejauhan. Tahun 2009, ketika Aisha, anakku yang pertama berumur 1 tahun 4 bulan, aku memutuskan berhenti dari pekerjaan di sebuah maskapai penerbangan. Saat itu ku pikir, sudah saatnya menjadi ibu rumah tangga yang full mengabdikan diri untuk keluarga kecilku.

Satu bulan, dua bulan, tiga bulan menjadi ibu rumah tangga biasa dengan anak balita membuat ku mulai kewalahan, kerepotan dan berbagai alasan lainnya. Aku mulai merasa keputusanku  resign itu, salah.

Aku kehilangan banyak waktu untuk diri sendiri, waktu bersama teman-teman dan waktu untuk bersosialisasi. Aku pikir, saat itu mudah menjadi ibu rumah tangga, ternyata lebih berat dari pekerjaan di kantor. Maklum, aku masih belajar menyesuaikan diri dengan dunia baruku, sebagai istri dan ibu rumah tangga tulen. Belum lagi pekerjaan suami membuat dia jarang di rumah dan itu berhari-hari lamanya. Aku merasa saat itu dunia saya mulai berantakan. Konyolnya, bahkan tak jarang aku suka nangis sendiri melihat Aisha nangis dan rewel. Aku darurat teman curhat!

Bermula dari kerempongan itu, dari semua kekacauan yang saat itu menurut saya udah ga bisa saya tampung sendiri terlebih saya mulai kehilangan waktu bersama teman-teman membuat saya butuh teman diluar suami saya. Teman curhat! Dan kemudian saya mulai lagi menulis.

2012, saya membuat blog ini dan isinya adalah curhatanku, tentang bagaimana rasanya menjadi istri dan ibu. Tentang perkembangan Aisha dan untuk menyimpan resep masakan. Berjalannya waktu, pelan-pelan aku mulai belajar banyak tentang ‘married life’ dan ‘mommy life’, aku semakin lama semakin jarang menulis. Dari tiap hari menjadi seminggu tiga kali, kemudian seminggu dua kali, sebulan sekali kemudian berhenti begitu saja. Anggaplah alasannya adalah sibuk dan ga ada waktu di depan laptop. Padahal, dunia saya teralihkan oleh gadget dan sibuk buka lapak di Facebook. *Hahaha....

Perjalanan panjang hobi menulis saya kemudian berpindah ke status di timeline Facebook. Dari status biasa-biasa aja, status OTW, status alay, lebay, galau sampai status nyinyir *Hahaha, ga banget kalo ini mah!

And time passes….

Sampai di 2015, ketika saya dihadapkan pada sebuah kenyataan yang membuat saya jatuh ke titik nol, titik terendah seorang Dian. Di tahun yang sama aku juga harus kehilangan Mama. Aku mulai berantakan secara emosi hingga di diagnosa PTSD tipe 1. Dan blog ini lagi-lagi menjadi temanku. Tempat dimana aku menitipkan banyak rahasiaku, menuliskan semua kekacauan, kesedihan, kesakitan, kebahagiaan, dan kegilaanku, semua tumpah ruah disini. RUANG TEMU-ku dengan teman-teman di kepalaku.

Blog ini juga menjadi saksi aku berproses dari nol lagi dengan embel-embel baru seorang survivor PTSD. Melalui writing therapy aku pelan-pelan  bangkit dari keterpurukan, hingga akhirnya berani bergabung dengan komunitas menulis online, bersosialisasi dengan banyak teman baru yang punya passion menulis, sampai menerbitkan beberapa antologi sebagai wujud nyata aku mencintai dunia menulis dan sebagai aktualisasi diri. 

Beberapa bulan lalu, ketika memutuskan bergabung dengan komunitas Blogger. Agak norak sih! ketika kembali membaca tulisan-tulisan saya, Aih, Mak Jang! aku malu sendiri mbacanya. Kok kayaknya cengeng banget! Receh banget, galau, melow level paripurna. 😅

RUANG TEMU inipun akhirnya di renovasi total. Aku mendelete banyak post-post curhat dan hanya meninggalkan beberapa sebagai bentuk kenangan baik yang harus dipelihara.

Hari ini, melalui Blogger Perempuan Network Challenge, aku menantang diri sendiri untuk keluar dari zona nyaman duduk manis, bangkit dari leyeh-leyeh manja sambil nungguin anak-anak sekolah dengan menulis S-E-T-I-A-P H-A-R-I. Yah, SETIAP HARI! *Do’akan saya tetap konsisten, ya, Mak!

Semangat, Dian! Kamu Bisa!
Jadi, kalo dulu saya nulis di Blog itu karena ingin curcol, sekarang udah ga lagi. *Masih, sih! Tapi dikit :p

Blog ini menjadi ruang temu, tempat saya ngobrol bermanfaat dengan teman-teman di kepala saya. Menuliskan banyak hal yang saya temui di kehidupan sehari-hari. Tempat saya menuliskan pengalaman dan berbagi cerita tentang apa saja yang menarik perhatian saya. Ruang temu ini adalah tempat dimana saya bertemu dengan diksi-diksi puisi saya. Tentang drama-drama Korea dan film-film favorit saya, yang sejenak bisa mengalihkan kerumitan di kepala saya. Tentang  buku-buku atau novel-novel yang saya baca.Tentang apa saja yang saya cintai dan ingin saya pelihara menjadi sebuah kenangan baik dan bermanfaat bagi orang lain yang membacanya. 

Sebagai seorang survivor PTSD, menulis buatku juga sangat bagus dan mendukung terapiku. Terapi yang menyembuhkan, yang menyelamatkan jiwaku. 

Jadi, ketika ditanya kenapa harus nge-Blog? karena aku ingin mengabadikan, menyelamatkan banyak rasa yang tak sempat aku ungkapkan secara lisan. 

That's all....
Sesederhana itu?
YA!

#Day1
#BPN30DaysChallenge2018
#BloggerPerempuan
#d14NWritingTherapy



Love ❤


-d14N-






You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images