STOP! Itu Bukan Milikmu

Juni 07, 2013

Dear... berempati terhadap masalah seorang teman atau sahabat memang mulia, tapi jangan kamu serap hingga kamu jadi terbebani. 

Hati-hati lho, kamu bisa jadi ‘spons’ masalah orang lain.

Diam-diam kamu tersiksa memikirkan seorang sahabat yang sedang menjalani proses perceraian yang sulit karena rebutan harta gono-gini. Kamu ikut nangis saat sang sahabat berderai air mata ketika curhat ke kamu. Kamu juga menjadi gelisah setiap kali sang sahabat memikirkan nasibnya kalau udah jadi janda. Kamu ikutan puyeng mikirin sahabat kamu, ikutan mumet tiap kali ingat sabahat kamu itu, i
kut-ikutan suka ngelamun jika ingat sahabat kamu yang sudah pasti memang butuh support. 

Lebih parahnya lagi kamu lupa meninggalkan ‘pikiran akan masalah sahabatmu itu’ saat sesi curhat berakhir. Kamu malah membawa pikiran akan ‘masalah sahabat kamu itu’ pulang ke rumah. Keesokan harinya kamu ‘tetap’ membawa ‘masalah sabahat kamu itu’ ke kantor, ke mall, ke rumah, kekantor lagi. Kemanapun kamu pergi pikiran “akan masalah sahabatmu itu’ tetap kamu bawa. Lama-lama masalah sang sahabat tadi kamu perlakukan seperti ‘seolah-olah’ itu masalah pribadi kamu sendiri. 

Mulai terdengar seperti itu adalah masalah kamu. Waduhh gawat! Ini berarti kamu termasuk orang yang rawan terhadap emosi negatif orang lain. Jangan sepelekan, seperti misalnya bersin, batuk atau jabat tangan yang bisa menularkan bakteri penyakit dari satu orang ke orang lain. Emosi biasanya satu paket dengan masalah, mereka bisa juga menjangkiti kamu. Sayang, seluruh vitamin C di dunia ini gak bisa membantu kamu mencegah apabila kamu terjangkit virus emosional.

Ancaman emosional apa aja yang bisa menyerang kamu, jika kamu ‘ikut memikul’ beban yang notabene bukan milikmu.

THAT LOOK IT’S CATCHING !!

Yang harus kamu sadari betul adalah EMOSI NEGATIF memang menular. Seperti hal nya ketika kamu ke kantor dengan senyum cerah ceria tapi sesampai di kantor kamu dicurhati masalah, keluhan dan sebagainya. Suasana hati kamu pasti langsung berubah dari yang tadinya dalam kondisi grade A, drastis berubah menjadi abu-abu dan kelabu. Fenomena penularan emosi negatif ini diakibatkan insting dasar yang memang sudah ada dalam diri masing-masing individu. 


Saat ‘ngobrol’ sering kita cenderung meniru dan mengsinkronisasikan diri kita dengan ekspresi lawan bicara kita, postur dan bahasa tubuh lawan bicara kita. Maka besar kemungkinan kamu tertular aneka ragam perasaan lawan bicara kamu, terlebih lagi jika mereka termasuk dalam kriteria ‘ekstrovert’ yang cenderung memancarkan isi hati mereka secara nyata dan kuat. 


Lain lagi bagi mereka yang termasuk golongan ‘introvert’ dan orang yang ‘super sensitif’ yang lebih rentan akan suasana hati orang lain. Perempuan lebih besar kemungkinannya tertular emosi orang lain, karena perempuan mahir dalam membaca kondisi emosional seseorang, juga bahasa tubuh seseorang.

Meski begitu, ada ‘untungnya’ bila yang ditularkan itu adalah ‘emosi positif’ berupa rasa bahagia, dan meyenangkan. Bahkan dari sisi tertentu “peka’ terhadap masalah orang lain itu adalah salah satu sifat yang patut dibanggakan. Tapi sudah pasti akan menjadi ‘masalah baru’ jika yang ditularkan itu adalah emosi negatif yang berakibat depresi, kesedihan, putus asa dan keterpurukan. Padahal itu bukanlah sesuatu yang harus kamu take over!

WHO’S PROBLEM IS IT ? ANYWAY ????

Siapapun pasti setuju jika menolong teman yang dalam kesusahan adalah sikap terpuji. Terlebih orang itu adalah orang terdekat kita misalnya sahabat kamu, atau orang-orang yang dekat dihati, siapapun itu. Tapi kamu musti ingat sebelum mutusin berenang dalam masalah mereka, ingat 1 kalimat “sebenarnya ini masalah siapa sih?” Dan itu tidak akan serta merta bikin kamu jadi orang paling egois sejagat raya, tapi kamu harus ingat dan sadari bahwa masuk campur dalam masalah orang lain akan menimbulkan masalah baru yang lebih besar lagi dari masalah yang ada sekarang.

Anggaplah posisi kamu sekarang sebagai seorang ‘konsultan’ ketika seorang teman membutuhkan kamu sebagai penasehat, pendengar, pemberi masukan saat sahabat kamu dalam masalah rumah tangga, misalnya. Dari sinilah batasan-batasan pribadi akan muncul. Jangan biarkan kamu terjebak dalam masalah yang dihadapi sahabat kamu itu. Jangan karena ‘saking’ seringnya menjadi pelabuhan curhatan sahabat-sahabat yang ‘bermasalah’ kamu jadi diselimuti sendu memikirkan mereka semua, bahkan sampai ‘stres’ bila gak nemuin solusi untuk membantu masalah mereka.

Bila kamu memang senang memikul beban berat orang lain dan ikut menderita karenanya, silahkan saja terus mencoba membantu mereka menyelesaikan masalah mereka. Yah, meskipun itu bukan masalah kamu lhoo. Ingat !! jangan sampai kebiasaan membantu orang lain dijadikan alasan menyibukkan diri dan melupakan dirimu sendiri.

Jika mekanisme kontrol diri kamu terlalu besar, coba kenali kamu termasuk golongan yang mana? dan ingatlah satu fakta bahwa ‘disaat' kamu selalu berusaha memikul beban masalah orang lain , dilain sisi kamu sudah menghambat proses pendewasaan mereka dan membuat mereka selalu bergantung kepada kamu’. 
Jadi mundurlah secara perlahan dan biarkan mereka menemukan kekuatan sebenarnya yang mereka miliki. 

Kamu tinggal mengamati, melihat dari kejauhan dan memastikan kamu ‘siaga’ membantu jika memang kamu dibutuhkan sebagai pihak ketiga. TAPI sekali lagiii nih ya, pastikan kamu tidak ikut campur. Ingatlah menunjukkan rasa peduli tidak melulu harus dengan melakukan bantuan. Bantu mereka dengan membiarkan mereka membantu diri mereka sendiri. Ketimbang kamu selalu berada di sisinya untuk melakukan apapun yang ‘KAMU PIKIR’ tidak bisa mereka lakukan sendiri. 

HELP YOU… HELP THEM

Jelaskan? bahwa kamu perlu membantu diri sendiri untuk TIDAK terjebak dalam masalah orang lain. Tapi kamu tetap bisa mereka andalkan untuk membantu mereka kelak. Dan pada akhirnya kepercayaan diri akan tumbuh dalam diri kamu dan sahabatmu yang bermasalah. Kamu tidak perlu membebani diri dengan memikirkan masalah orang lain. 


Jangan GE-ER dulu, mungkin saja mereka hanya butuh teman yang mendengarkan, sekedar berbagi dan butuh masukan-masukan dari kamu. Jika masalah sahabat kamu sudah menyangkut yang namanya PERASAAN HATI kamu wajib membatasi diri.

Membantu sahabat, ikut campur di dalam masalah mereka sedekat apapun mereka dengan kamu, itu sama sekali tidak di rekomendasikan. Biarkan mereka menyelesaikan dan menemukan solusi sendiri dan menemukan kepuasaan disaat pada akhirnya nanti masalah mereka berakhir. 


Taraaaaaaa... kamu akan punya banyak waktu untuk dirimu sendiri, kamu menghemat banyak energi dan emosi untuk menjalani hidupmu sendiri.

Intinya menjadi dewa penyelamat bagi sahabat yang bermasalah justru mengahalangi mereka menjadi dewasa, halau energi negatif itu, lakukan hal apapun yang bertolak belakang dengan akibat dari energi negatif tersebut. Usahakan untuk tidak meniru bahasa tubuh orang yang sedang bermasalah. 


Tetapkan batasan-batasan diri kamu, ingat bahwa masalah ITU BUKAN MILIKMU, selamatkan keadaan emosional diri kamu sendiri. 
SAVE UR MOOD .. SAVE UR SOUL !!



-d14N-




You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images